Baduy: Mesin Waktu yang Menawarkan Pesona Keindahan, Pembelajaran dan Rasa Syukur

BaduyJust a little throwback… ceritanya lagi mengenang cikal bakal di mana nama ‘Ujame’ terbentuk nih gaes! Hehehe. Jadi, selepas dari perjalanan inilah, Ujame memutuskan untuk bersatu dan membuat tim. So, bisa disimpulkan ini perjalanan pertama Ujame yang penuh tantangan, lika liku dan drama (gak ketinggalan a.k.a pastinya selalu ada). Perjalanan yang dilakukan 3 tahun silam di November 2017, dan tentunya unforgettable 🙂

Tapi sebelumnya, Ujame mau disclaimer!!!

Tulisan ini sebenarnya udah pernah dibuat di blog lama cek di sini (blog pribadi salah satu dari kami jaman baheula dan udah gak kepake), tapi karena blognya udah tak aktif dan cerita perjalanannya berhubungan sama ‘bibit’ terbentuknya Ujame, akhirnya Ujame pindahkan ke sini deh.

Oke, here we go! Kuy kita ke Baduy

 

 “Bagi kami, Baduy adalah mesin waktu yang menawarkan pesona keindahan, pembelajaran dan rasa syukur”

 

Fakta suku baduy, kamu WAJIB tau!!!

Buat kamu yang belum tau, kayak apa sih suku baduy itu? Ujame bakal bahas sedikit nih.. Suku Baduy itu merupakan penduduk yang berada di Kabupaten Lebak, Banten. Suku ini memiliki keunikan dan pesonanya sendiri, karena mereka Urang Kenekes (sebutan untuk orang Baduy) yang mengisolasi diri mereka dari dunia luar. Mereka gak tersentuh tuh sama modernisasi, mereka tetap mempertahankan kearifan lokal dari leluhur mereka secara turun menurun.

Mereka terbagi menjadi 2 kelompok, yaitu Baduy Luar dan Baduy Dalam. Keduanya merupakan orang asli suku baduy. Bedanya apa? Baduy luar merupakan penduduk yang awalnya itu penduduk baduy dalam tapi karena melanggar aturan adat, jadi mereka harus ke luar dari baduy dalam deh…

Baduy Dalam dengan ikat kepala warna putih
Baduy Dalam dengan ikat kepala warna putih

Sedangkan baduy dalam adalah orang yang masih berpegang teguh dan menjalani aturan adat. Aturan adat yang harus mereka taati diantaranya; tidak boleh menggunakan transportasi alias harus jalan kaki untuk pergi kemanapun (GEWLAAQ) dan jalan kakipun harus telanjang (gak pake alas), tidak boleh menggunakan tekhnologi, mandi tanpa menggunakan bahan kimia (sabun, sampo, pasta gigi), tidak boleh membangun rumah dengan peralatan bantu (gergaji, palu, paku, dsb).

Baik baduy dalam maupun baduy luar juga tidak merasakan bangku pendidikan. Mereka menikah di usia dini dan harus sesama orang baduy (baduy dalam dengan baduy dalam dan baduy luar dengan baduy luar). Kalau kamu lihat dari penampilan, mereka gampang banget dikenali dengan mudah. Baduy dalam memakai kain bewarna putih dengan ikat kepala bewarna putih (namun ada juga yang memakai hitam asalkan ikat kepala tetap putih). Sedangkan baduy luar dipastikan memakai kain bewarna hitam atau pakaian bebas yang menandakan mereka syudaah tyduck sucih lagi dan memakai ikat kepala bewarna biru.

Perlengkapan:

Well, hari H pun tiba. Ujame gak Cuma berdua, tapi ada Dini, seorang teman yang ikut dalam petualangan. Perlengkapan yang kami bawa di antaranya:

  1. Pakaian 2 hari 1 malam,
  2. Sleeping bag/ sarung,
  3. Air mineral ukuran lebih baik 1,5 liter dan botol minum,
  4. Perlengkapan mandi,
  5. Perlengkapan shalat,
  6. Jas hujan/payung dan
  7. Senter

Petualanganpun dimulai…

Perjalanan dimulai dengan naik KRL jurusan Tanah Abang-Rangkas Bitung yang memakan waktu ±2jam. Berasa banget dari ujung ke ujung nya gaes, apalagi kalau kamu orang Bogor, Depok, Bekasi hahaha. Sesampainya di Rangkas Bitung, lanjut lagi perjalanan dengan naik Elf sewaan bersama traveller lain menuju desa Ciboleger (pintu masuk ke baduy luar). As you know gaes, baru sampai naik Elf nya aja fisik udah diuji wkwkwk. Perjalanan ± 2,5jam dengan kondisi jalan yang gak banget!! jalan bebatuan dan tikungan sana sini yang mengocok perut. Perjalanan selama itu, jangan harap kamu bisa tidur lagi, cukup tahan aja ya supaya gak muntah XD (hmm, gak tau sih kalau kondisi sekarang tuh kaya gimana ya)

Pintu masuk ke Baduy, Desa Ciboleger
Pintu masuk ke Baduy, Desa Ciboleger

Sesampainya di desa Ciboleger, kami disambut sama orang baduy dalam dan baduy luar. Mereka menawarkan jasa porter untuk mengangkat barang bawaan, PP harganya 50rb. Kalau sanggup ya bawa sendiri, biar terasa lebih tantangannya. Tapi kalau enggak, ya mending sewa aja yakaan, daripada nanti passed out dan nyusahin -_- makanya, Ujame memutuskan, “SEWAAAAA!!” (baliknya tapi, berangkatnya masih sendiri).

Potret rumah di Baduy Luar
Potret rumah di Baduy Luar

Sebelum ke baduy dalam, Ujame ramah tamah ke rumah salah satu penduduk baduy luar. Mereka juga menyiapkan makan siang dan mempersilahkan untuk shalat. Setelah itu, baru deh kali ini petualangan benar-benar dimulai yeeey! Dari baduy luar ke perbatasan baduy dalam (baru perbatasannya aja, belum dari perbatasan ke Baduy Dalamnya) itu ±14km wkwkwk ya itu sama aja kaya dari kantor ke kampus (Kemang-Depok) dan itu dilakukan dengan jalan kaki ya, bukan naik angkot atau ojol. Jangan harap! gimana betis gak tegang coba? Tantangannya gak cuma itu aja, jalanan yang dihadapi gak mulus kaya jalan di Jekardah ya, kamu akan jalan di tanah yang cukup terjal, ketemu tanjakan, turunan dan bebatuan. Makanya, perjalanan bisa memakan waktu sampai 4-5jam. Belum lagi, kondisi cuaca gak menentu, saat Ujame kesana itu lagi hujan, jadi paket komplitlah, kesandung, kepeleset, kotor, pegangan tangan, bau mah udah mewarnai perjalanan kami *eaaaa.

Iyes, Ujame with Dini
Iyes, Ujame with Dini

 

Baca Juga: Explore Malang – Mencoba Kereta Eksekutif Jakarta-Malang PP Jayabaya & Gajayana

 

Ada aja drama di mana-mana….

Oya, harus sedia air minum yang banyak.. karena energi bener-bener dikuras habis-habisan dan bakalan haus terus selama perjalanan. Tapi tenang, kalau udah kehabisan air minum, ada aja yang jual air mineral selama perjalanan di titik-titik tertentu. Uniknya, setiap titik harganya beda-beda. Semakin jauh semakin mahal wkwkwk. Mulai dari 7rb-10rb untuk air mineral 350ml. Mahal ya XD udah, selebihnya begitu aja terus selama perjalanan. Otot nyeri, kaki pegal dan nafas gak beraturan. Tapi perjalanan Ujame gak melulu jalan terus aja sih, selama perjalanan Ujame juga istirahat untuk mengatur nafas, minum dan istirahat karena salah satu dari Ujame ada yang kakinya kram :p (drama pertama) jadi, Ujame ketinggalan rombongan wkwkwk. Untung orang baduynya baik-baik mau nungguin Ujame sampe tuh kaki sedikit membaik, baru cuss lagi. Dan akhirnya Ujame sampai juga di penginapan, walaupun sampai paling terakhir dan menjelang maghrib diliatin pula sama traveller lainnya yang udah berleyeh-leyeh ria (drama kedua) wahahaha

Ngaso dulu gaesss, lelah hayati XD
Ngaso dulu gaesss, lelah hayati XD

“Ke Baduy, tak hanya diuji secara fisik, tapi juga mental dan kepribadian”

Unforgettable Moments! Hiks.. hiks..

Selama perjalanan, Ujame bertanya-tanya, “Kapan sampai, sih? Masih jauh gak?” orang baduynya akan jawab, “Sedikit lagi” padahal aslinya mah, beuuuh warbiyasalah yak wkwk.

Selama perjalanan di baduy luar, boleh diperkenankan untuk mengambil foto, namun apabila sudah sampai di perbatasan masuk ke baduy dalam, dilarang keras untuk mengambil foto dan handphone wajib untuk dinonaktifkan.

“Ketika kamu mendengar suara angin bernyanyi bersautan, itu tandanya… kamu sampai di Baduy Dalam”

Tentraaam sekali rasanya, udara yang sejuk, pemandangan yang hijau dan suara angin yang bersautan. Angin tersebut berasal dari suara kincir angin yang dibuat oleh warga baduy dan mengeluarkan bunyi yang khas.

Tibanya di baduy dalam, Ujame bermalam di salah satu rumah warga di desa Cibeo. Rumahnya berbentuk rumah panggung, terbuat dari kayu dan bambu dengan pondasi batu kali serta tidak berjendela. Hangat sekali di dalam, namun tidak panas. Menenangkan.. 🙂

Salah satu jembatan di area Baduy Luar, serba kayu
Salah satu jembatan di area Baduy Luar, serba kayu

Semakin sore, semakin gelap dan Ujame bergegas untuk bersih-bersih. Ujame bertanya kepada salah satu laki-laki baduy dalam, “Punteeeennn.. Kang, toilet dimana ya? Saya mau pipis”. Lalu dijawab, “Lurus, turunan lalu belok kiri”. Oke, Ujame kesana. Dan sesampainya, WHATTTT??? Kok sungai?? Wkwkwk. Ternyata mereka mandi, buang hajat dan mencuci di tempat yang sama. Ujame langsung saling menatap satu sama lain, kaget dengan kejadian yang di depan mata. Mereka (wanita baduy) juga tampak biasa saja melakukan aktifitasnya masing-masing. Bahkan mereka menertawai kami hahaha.. Yaudah, mau gimana lagi dong ya? Pengalaman ini gak akan Ujame dapatkan di Jakarta (penguatan diri) wkwk. Akhirnya tak cuma rencana buang hajat, Ujame balik ke penginapan, mengambil pakaian ganti dan memutuskan untuk mandi sekalian XD (asiiikkk… lyke a local)

UJAME’S TIME ^^

Sungai yang digunakan jelas dipisah ya antara wanita dan laki-laki jadi aman 🙂 lalu mandinya gimana? Ya mandi layaknya mandi, telanjang wkwk. Tapi karena Ujame belum terbiasa, dengan menggunakan kerudung yang cukup lebar, maka disulaplah menjadi penghalang rasa malu hahaha. Dan lagi-lagi wanita-wanita baduy tersebut melirik ke arah kami dan tertawa kecil. Aneh banget keknya yaaaa XD. Dan Ujame mandi menggunakan air saja (airnya bersih, segar dan jernih loh), tanpa sabun, sampo dan pasta gigi. Karena hal tersebut memang tidak diperkenankan. Ada sensasi yang berbeda tentunya, jadi ingat film laga atau cerita rakyat tentang 7 bidadari yang mandi di sungai *halaaah

Danau di Baduy Luar, segeeeeurrr banget dan bening. Pengen nyebur gak?
Danau di Baduy Luar, segeeeeurrr banget dan bening. Pengen nyebur gak?

Oke, malampun tiba, makan malam Ujame disiapkan oleh pemilik rumah. Makanannya sederhana, hanya indomie, telur goreng, ikan asin dan sambal. Dan minum air putih menggunakan gelas yang terbuat dari bambu dengan aroma asap tungku. Nyummy! Setelah makan malam, ya tak ada aktifitas lain yang Ujame lakukan selain ngobrol atau tidur. Satu malam yang damai dan nyaman sekali, waktu yang pas untuk curhat dalam gelap wkwk. Nah di sini, UJAME TIMES BANGET! ngobrol heart to heart (bukan ghibah ya wkwk) semua tentang kami; tentang jati diri, tentang persahabatan, tentang ambisi dan mimpi yang harus kami kejar! Padahal saat itu, Ujame belum terlalu dekat satu sama lain, masih sebatas ya dekat aja, manggilnya pun masih sopan banget wkwkw, kalau sekarang? Ah sudahlaaah wkwk.

Semakin dalam, hangat dan berkualitas obrolan karena tanpa gadget dan tak ada elektronik. Ujame saling bercerita satu sama lain dalam gelap sambil mengurut kaki dan badan yang pegalnya sulit untuk diceritakan wkwk selanjutnya, Ujame pun tertidur deh…

Bayangkan kalau waktu malam, sepi & sunyi banget :)
Bayangkan kalau waktu malam, sepi & sunyi banget 🙂

Back to Reality!

Hmmm.. kalau ditanya, kira-kira kalau dikasih tantangan, “Sanggup gak tinggal di Baduy selama seminggu?” Ujame akan jawab “NO!!!” hahaha. Ujame tak sekuat dan setangguh mereka~~ Tapiiii.. banyak sekali pelajaran kehidupan yang bisa diambil dari perjalanan kali ini. Mereka (orang Baduy) dapat hidup dengan sederhana, sehat, kuat, ceria dan bersahaja. “I’m proud of Suku Baduy!!!”.

Ujame menginap satu malam di sini, jadi keesokan harinya Ujame langsung pulang. Dan pulangnya Ujame harus mengahadapi hal yang serupa namun tak sama, jalan lebih dari 14km dengan berjalan kaki menggunakan jalur yang berbeda. Ujame berkesempatan melewati hutan, karena cuaca cerah, gerimis berhenti dan tidak berbahaya. Namun setengah perjalanan, WHATTT?? “Allahumma Sayyiban Nafi’an”  hujan turun deras lagi wkwkwk. Lebih mending saat perjalanan pergi yang hanya gerimis, kalau ini benar-benar deras dan cukup menantang hohoho.

Tanah basah yang bikin sepatu jebol XD
Tanah basah yang bikin sepatu jebol XD

Tanah yang Ujame lewatipun berubah jadi becek dan “belok” (sebutannya), sampai sepatu/sendal kami berat banget untuk diangkat karena penuh dengan tanah XD (drama ketiga). Dan hal yang sama kembali terjadi, Ujame seringkali kepeleset, terjatuh dan terinjak (ya engga sampe terinjak sih) jadi kanu harus saling berpegangan tangan satu sama lain *cieeeh.. benar-benar satu pengalaman yang sulit untuk dilupakan siiih, aseliiih! dan pakaian yang kami kenakanpun teerlihat seperti orang yang kecebur di sawah, kotor karena basah dan penuh tanah hehe.

Setelah tiba di Baduy Luar, legaaaaa rasanya! Namun lagi dan lagi, ada aja kejadian yang bisa dijadiin list drama, akibat mendaki dan menuruni gunung yang cukup terjal dan licin dan jenis sepatu yang salah akhirnya sepatu salah satu dari Ujame udah gak berwujud bentuknya (harusnya pakai sepatu atau sendal gunung, eh ini malah pakai boots buat nge-mall ya ancuur)  (drama keempat) jadi pastiin ya sepatu yang kamu pakai harus sesuai dengan kondisi alam yang akan kamu hadapi. Karena kejadian ini kami harus merelakan sepatu itu untuk segera dibuang dan memutuskan untuk beli sendal jepit aja deh 😀

Handmade by ciwi-ciwi Baduy, tenunnya cantik :)
Handmade by ciwi-ciwi Baduy, tenunnya cantik 🙂

Happy kembali ke Baduy Luar XD

Setelah drama alas kaki, Ujame bergegas untuk mandi dan bersiap pulang (kangen kasur pengen rebahan kaki dan badan udah engga tau rasanya kayak apa). Alhamdulillah, mandi di Baduy Luar tidak seperti di Baduy Dalam yang mandinya harus di sungai ya, ini udah layaknya mandi di kamar mandi biasa. Hehehe

Selesainya, Ujame pulang menggunakan transportasi yang sama, dengan elf dari Desa Ciboleger sampai stasiun Rangkas Bitung dan dilanjutkan dengan KRL jurusan Tanah Abang lalu berpisah deh satu sama lain. Selesai!

Semoga bermanfaat dan memberikan informasi untuk pembaca ya, terutama untuk kamu yang berencana mau kesana. Enjoy your travelling and have a nice day in Baduy! 

Mungkin kamu juga suka ini

38 Komentar

  1. Mbaaa ini lbh menantang drpd Korut yaaaa wkwkwkwkwk. Aku msh bisa mandi pake sabun wangi setidaknya di sana :D.

    Seriuuuus penasaran mereka kalo ga pake sabun, dan odol, maaf, apa ga bau yaaa. Membersihkan gigi pake bahan2 alam kayak siwak? Aku ga yakin siwak ada di sana.

    Bikin rumah kalo ga bisa pake alat bantu, jadi pakai apa itu bangunnya wkwkwkwk. Duuuh aku saluuuut sumpaaaah :). Pengeeen siiih ksana, tapi ga kuaaaat kalo aku hrs jalan kaki sejauh itu dengan Medan ampuun Gilak , dan yg bikin mundur, ga bisa mandi pake sabuuun hahahahahah . Nyeraah

    1. Haiiiiii buuund, makasiiih banget udah mampir hahahaha.

      Ujame lihat mereka menggosok badannya pakai daun, bund 😂 tinggal metik di alam wkwkwk.

      Terus untuk pembangunan rumah, mungkin diikat pakai jerami, ijuk, dsbnya kali ya. Kurang paham kalau itu 🤣🤣 nanti kalo di jalan ketemu orang-orang Baduy, tak tanyakan bund wkwk

      Btw, kalau liat tapak kaki mereka, itu lebar-lebar sekali.. Mungkin karna dipakai untuk jalan yaa..

      1. Beruntung bunda ikutan BW nih jd bisa baca tentang Baduy. Kebetulan kami Grup kecil pensiunan Unicef ada rencana buat jln2 ke Baduy nih. Rencana terhalang begitu lm oleh si Covid 19. sejauh mana dih jalan kakinya? Masa si bunda gak kuat.

    2. Bermanfaat banget nih tulisan!
      Kita jadi tau kehidupan suku Baduy tuh kayak gimana.
      Drop deh baca perjalanan menuju ke lokasi yang jelek banget jalannya trus dari Baduy Luar ke Baduy Dalam juga mesti jalan kaki.
      OMG! Gak sanggup saya, apalagi lewat hutan kayak gitu… Haha.

      Benar2 menantang tapi sampai di Baduy Dalam perasaan jadi tenang ya.

  2. kangen masa SMU waktu ke sana studytour 1 angkatan sekolah. kira2 15 tahun yang lalu.. hihihi..
    sampai lebih dalam lagi.. enakk bisa dengar burung angin menghirup udara sejuk banget. minum air langsung dri sungai.. aa kangen sekali, makasih sudah share

  3. Masya Allah, pemandangan di Bady Dalam itu luar biasa ya Ujame. Kagum deh masih ada yang bisa mempertahankan kearifan lokal seperti mereka. BTW di Sulawesi Selatan ada juga lho yang seperti orang Baduy, namanya orang Kajang dan seperti Baduy – ada Kajang Dalam dan ada Kajang Luar.

  4. Ampuuunn, kayaknya daku juga angkat tangan dahhh kalo diajakin tinggal di Baduy Dalam. 😀
    Tapiii kalian menceritakan pengalaman ini dengan seruuu banget!
    Aku bacanya ngga kedip sama sekali lho 😀

  5. Wuiii senangnya yang bisa ke Baduy, saya cuman pernah baca-baca aja di beberapa portal berita, dan sekarang baca di sini lebih ngeh lagi dengan semua 😀

    Dan salut banget deh masalah mandi itu, mandi di sungai, rebutan di bagian atas dong ya, entar pas kita mandi yang di atas lagi buang hajat kan pegimana hahahaha

  6. Baduy hampir sama seperti di daerah kelahiran saya mbak Tasikmalaya tepatnya di Salawu dengan nama Kampung Naga. Masih kental banget sama nenek moyang dan budayanya juga serasa seperti zaman dahulu banget dari masak hingga pakaian juga.

  7. Aku takjub mbak2 sama pemandangan alam di tempat tinggal suku Baduy. Bagus banget masyaAllah. Kalau ditanya pengin nggak kesana? Pengin, pengin banget. Tp setelah baca petualangan kalian berdua, aku jadi mikir mikir kalau mau ke sana, maklum anaknya lemahaaann.
    Sukses terus buat Ujame, semoga segala mimpi kalian berdua tercapai semuanya aamiin.

  8. Jadi tahu tentang kehidupan suku Badui. Pasti perjalanannya sangat melelahkan dan menantang, tapi pengalamannya luar biasa ya. Mungkin saya pun tidak akan sanggup menetap di Badui, cuman melihaf pemandangan alamnya, kesederhanaan yang diajarkan penduduknya sepertinya sangat takjub…ingin suatu saat datang kesana dan melihat secara langsung kebiasaan mereka meski cuma sehari saja….

    1. Perlu juga sesekali pergi ke “dunia yang berbeda” Seperti ini. Kita beruntung lho punya suku Badui. Ga udah jauh2 nyebrang pulau atau keluar negeri buat mendapatkan pengalaman seperti ini. Jauh Dari peradaban modern, ga ketemuan internet dll

  9. kapan hari ada berita tentang baduy yang lebih ingin menutup diri dan meminta agar areanya gak dijadikan area untuk turis ya, mbak. di satu sisi itu baik, tapi di sisi lain, aku belom ke sanaaa ahahah masih kepengen tau eeh

  10. Aih senangnya..sudah pernah bertemu Suku Baduy. Saya ingat banget dulu tuh pertama tahu tentang Baduy tuh saat baca tulisan di Majalah Bobo. Sejak itu, saya selalu penasaran pengen ke sana. Sayangnya sampai sekarang belum terwujud juga.

  11. Oh ternyata di Baduy Dalam boleh makan indomie ya? Kirain ga boleh lhooo.. itu kan sudah terpapar budaya luar :))
    Belajar kembali ke alam ya kalau menginap di Baduy Dalam. Belajar untuk mengenali diri sendiri dan tidak tergantung pada gadget.

  12. Aku baru tahu kalau Baduy ternyata gak begitu jauh dari Jakarta loh! Bayanganku sampe keluar pulau! Aduh sungguh malu sama pengetahuanku.
    Ternyata seru yaa suku Baduy itu. Tapi beneran beda ya Baduy dalam dan Luar.

  13. Aku masih saja mengkeret kalau membaca tentang perjalanan ke Baduy Dalam. Makanya sampai hari ini belum niat juga datang ke sana. Padahal sih pengen banget. Pengen menikmati keheningan malam, keciprat air di sungai, tidur di rumah panggung dan sarapan atau makan malam dengan Indomie 🙂

  14. Aku belum pernah ke baduy langsung, tapi seneng banget pas ke Museum Tekstil bisa beli tenunnya . Cantik dan enak dipakainya.

    Musti bisa ada trip ke sana nih,
    Semakin penasaran saat naik kereta ke arah BSD aku bertemu anak baduy. Kayaknya baduy luar ya karena mereka terbiasa dengan dunia luar.

    Aku seneng banget sama orang2 yang menjaga kearifan lokal daerahnya, thank you referensinya kak. Ini bisa jadi bekal info untuk perjalanan ke sana .. semoga pandemi lekas berlalu😍

  15. sekarang ada tugu ucapan selamat datangnya ya, dulu saya terakhir ke sana tahun 2011 awal kalau ga salah, masih bener-bener asli belum ada apa-apa, pariwisata di sana belum seberkembang sekarang, aksesnya pun masih sulit 10an tahun lalu kayaknya. Dan nginap juga di rumah warga 1 malam, sayangnya ga bisa pergi ke Baduy Dalam, karena mereka lagi usim puasa gitu, jadi ga boleh terima tamu bulan itu, jadi pengen ke sana

  16. Sebenarnya Baduy salah satu wishlist ku tahun ini tp syg belum terwujud nih gara2 ada pandemi, baca ini jadi semakin pengen ke Baduy. Eh aku salah fokus baca desa Cibloger ternyata Ciboleger.

  17. Duuuh, seru banget pengalamnnya, dek. jadi penasaran pengen ngerasain juga gimana tinggal bersama suku Baduy. Semoga suatu hari bisa ngerasain juga. Tapi ga usah lama2, karena pasti ga bakalan betah (karena aku anak gadget banget) hihi.

  18. Dulu sekolahku pernah kunjungan ke Baduy, tapi sayang aku ga ikut. Trus dikasih alamat dan mereka datang dgn jalan beriringan tanpa alas kaki. Luar biasa yaaaaa. Salut, Indonesia indah banget dgn segala keragamannya.

  19. Luar biasa persahabatan kalian itu lho bikin envy haahha, ketemu sahabat pas jaman gede itu beda ketika pas sekolah ya. Dan passionnya sama, jadi klop kemana aja oke dan hayuk. Ini Baduy pernah jadi perbincangan saya dan kawan-kawan yang pernah ke sana. pengen suatu saat ke sana juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.